Seni musik merupakan salah satu jenis kesenian yang paling banyak digemari oleh seluruh manusia dan menjadi seni yang paling laku di muka bumi, dengan berbagai alasan yang menyebabkan seni musik banyak digandrungi dan diminati. Penikmat seni musik tergolong unik, karena seni musik sangat populer di segala jenis kalangan masyarakat, mulai dari usia, generasi, hingga bahkan kultur sekalipun. Dalam hal ini bahwa musik sudah dianggap menjadi suatu kesenangan atau hobi yang membudaya, bahkan banyak diantaranya yang mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk berkarya di seni musik. Akan tetapi, sebagai akibat ranah seni yang digemari dari berbagai bangsa dan kelompok akulturasi maka musik memiliki banyak fase “abu-abu” yang terjadi, Rudy Octave menulis tentang fase abu abu ini dalam hal musik sebagai identitas budaya pada genre world music.

Modernisasi yang terjadi secara masif di dunia global sangat berdampak bagi perkembangan seni musik, terutama bagi seni musik tradisi yang selama ini lestari dan sangat dijaga. Kehadiran industri musik modern masuk kedalam salah satu gelombang modernisasi yang ikut andil dalam mengubah tatanan musik dunia secara cepat. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya transisi antara budaya musik tradisi pada masa sebelum industri musik mendunia hingga pasca invasi musik modern di dunia sehingga antropologi mengambil perannya dalam kaidah peristiwa yang disebut sebagai asimilasi dan akulturasi budaya yang berdampak pada seluruh aspek kesenian termasuk di dalamnya seni musik, sehingga lahirlah istilah genre musik dunia atau yang biasa disebut sebagai world music apabila diterjemahkan dalam lingkaran cerita sederhana seperti ini :  genre world music  dianggap “lahir kembali” ketika “dibuahi” oleh musik folklore, kemudian “dibidani” oleh industri musik barat, dan terlahir sebagai genre “baru tapi lama” kemudian diminati oleh konsumen “lama tapi baru”.

Tradisi dan budaya latin yang sejatinya berasal dari daratan Eropa yang dibawa oleh beberapa negara seperti diantaranya yaitu Spanyol dan Portugis lewat kegiatan ekspansi dan pendudukan wilayah yang pada sekitar abad pertengahan menyebar hingga mencakup hampir di seluruh dunia termasuk diantaranya adalah wilayah Amerika bagian Selatan. Proses akulturasi yang terjadi akibat peristiwa ekspansi berdampak sangat besar bagi penduduk asli Amerika Selatan dimana didalamnya terdapat 3 ras yang saling berasimilasi yaitu ras pendatang Eropa, ras Indian sebagai penduduk lokal dan ras Afrika yang didatangkan sebagai pekerja atau budak, ke tiga ras ini dalam kurun waktu yang panjang bukan saja saling menyerap budaya akan tetapi justru membuat sebuah fenomena akulturasi tradisi baru yang berdampak menjadikan bangsa di wilayah Amerika Selatan menjadi unik hingga ke ranah seni musik. Produk akulturasi dan asimilasi yang terjadi ini tidak berhenti disitu saja, oleh beberapa musisi yang sengaja bermigrasi mencari dunia ketiga (kebebasan) di negara Amerika Serikat, maka musik hasil akulturasi 3 ras tersebut ter “stempel” di negara Paman Sam menjadi musik industri yang beberapa diantaranya “mampir” ke negeri Nusantara dan akhirnya menjadi “Tuan Rumah” di negeri kita. Irama musik ciri khas latin seperti salsa, reggaeton, bachata, kizomba, cha cha cha, bolero, cumbia, merengue, dan lainnya telah menghasilkan suatu kultur baru yang disebut dengan budaya Amerika Latin dengan seni musik yang dibawanya yang saat ini kita kenal dengan sebutan musik latin.

Beberapa pendapat dan kajian teori mendalam juga akan disampaikan oleh Rudy Octave tentang bagaimana popularitas musik latin bisa menyebar luas ke seluruh dunia hingga tiba di tanah Nusantara dan pengaruhnya terhadap industri musik Tanah Air. Fenomena populer yang terjadi pada dunia musik Indonesia menunjukkan fakta bahwa banyak masyarakat tidak sadar atau bahkan tidak tahu tentang musik latin yang sudah sangat lama bercokol dan menjadi bagian dalam kognisi, persepsi, dan hegemoni penciptaan karya musisi Indonesia sejak lama, sebagai contoh terlihat dalam beberapa karya musik dari band legendaris Indonesia Koes Plus dengan komposisi musik ska dari budaya musik latin. Sehingga tanpa disadari bahwa selama ini gelombang invasi dan ekspansi musik latin sudah berlangsung lama di Tanah Air yang hingga saat ini mempengaruhi budaya musik otentik dalam tradisi dan budaya musik di Indonesia.

Melalui kajian panjang sejarah perjalanan penyebaran seni musik latin dengan segala keragamannya (irama musik) hingga pendalaman kajian-kajian dan pendekatan teori-teori dengan meminjam kacamata dari beberapa disiplin ilmu seperti antropologi, sosiologi, geografi, filsafat, hingga matematika, Rudy Octave menemukan fakta bahwa Indonesia dengan ratusan bahkan ribuan corak suku bangsa dan budaya dengan ragam alat musik tradisional ternyata hampir tidak memiliki pencatatan secara baku tentang irama asli yang dimiliki oleh Nusantara. Rudy Octave juga mencoba menjawab kegundahan dan ketidaktahuan para awam, penikmat musik, para praktisi dan pelajar seni musik tentang fenomena darurat irama yang selama ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia secara luas. Pembedahan mispersepsi dan kerancuan terhadap pemahaman teori musik akan ditelaah secara rapi, kontekstual, dan interaktif. Beberapa karya kontemplasi beserta uji teori akan dijelaskan pula secara teratur lewat sajian karya aransemen oleh Rudy Octave sehingga semakin memperjelas kajian buku tentang esensi utama dari irama musik yang dimiliki oleh Nusantara hingga melahirkan suatu irama yang unik.

Tinggalkan komentar